Beberapa minggu lalu gue ketemu sepupu gue, sebut saja Rina. Dia ibu dua anak, tinggal di rumah, dan hampir tiap hari ngeluh soal satu hal yang sama: anaknya nggak mau makan. Bukan sekali dua kali, tapi tiap jam makan jadi drama. Anaknya lari-lari, gue-nya yang ngejar sambil bawa sendok. Dia cerita sambil ketawa getir, "Gue tuh kayak bukan ibu, tapi tim pengejar di lapangan bola."
Yang bikin gue nggak tega, dia bilang dia mulai ngerasa gagal. Padahal dari ceritanya, dia udah coba segala hal. Masak yang lucu-lucu, nyuapin sambil nonton, sampai ngiming-ngiming biar anaknya buka mulut. Semua dicoba. Dan semua bikin dia makin capek.
Nah, dari obrolan itu gue jadi kepikiran. Banyak ibu rumah tangga yang ada di posisi Rina. Capeknya bukan cuma capek badan, tapi capek hati karena ngerasa usahanya nggak dihargai. Padahal masalah makan anak itu sering kali bukan soal masakan kita kurang enak, tapi soal hal-hal kecil di sekitarnya yang nggak kita sadari.
Jadi gue coba rangkum jadi daftar periksa. Anggap aja ini teman ngobrol, bukan ceramah. Cek satu-satu, siapa tahu ada yang selama ini kelewat.
Baca juga: Jalan Jakarta Berlubang di Tengah Hujan Ekstrem
Ceklis 6 Hal yang Sering Kelewat Saat Anak Susah Makan
1. Jam makan yang nggak teratur
Ini kelihatan sepele, tapi sering jadi akar masalahnya. Kalau jam makan anak berantakan, tubuhnya nggak punya "jadwal" rasa lapar. Akhirnya dia makan karena disuruh, bukan karena lapar. Coba deh, selama seminggu, catat jam makannya. Kamu bakal kaget sendiri lihat polanya.
Gue sendiri dulu sempat ngalamin ini sama keponakan. Tiap sore dia udah dikasih camilan berat, terus pas jam makan malam dia nggak mau makan. Ibunya panik, padahal ya wajar aja, perutnya masih penuh.
2. Camilan yang terlalu dekat dengan jam makan
Susu, biskuit, atau jajanan manis yang dikasih 30-60 menit sebelum makan itu bisa bikin anak kenyang duluan. Bukan berarti nggak boleh ngemil, tapi atur jaraknya. Kasih jeda minimal 1,5 sampai 2 jam sebelum makan besar.
"Anak nggak mau makan itu kadang bukan nolak makananmu, tapi cuma belum lapar."
3. Suasana meja makan yang bikin tegang
Ini yang paling sering gue lihat. Ibu udah capek masak, anak nggak mau makan, akhirnya nada bicara naik. Anak nangis, ibu kesal, makanan dingin. Besoknya kejadian lagi.
Anak itu pintar baca suasana. Kalau meja makan jadi tempat "perang", dia bakal makin males. Coba sesekali makan bareng tanpa target. Nggak usah fokus ke berapa suap yang masuk, fokus ke obrolan. Kadang anak makan lebih banyak justru waktu kita nggak terlalu memperhatikan.
4. Porsi yang kebesaran buat ukuran anak
Kita sering lupa, lambung anak itu kecil. Porsi yang menurut kita "sedikit" bisa jadi udah banyak buat dia. Kalau anak lihat piringnya penuh, kadang dia langsung nolak sebelum nyoba. Coba kasih porsi kecil dulu, biar dia minta tambah sendiri. Rasa "berhasil menghabiskan" itu penting buat anak.
5. Terlalu banyak pilihan di satu waktu
Kasih anak dua pilihan itu bagus. Kasih lima pilihan, dia bingung. Terlalu banyak variasi di piring bisa bikin anak overwhelmed, apalagi kalau dia tipe yang pemilih. Mulai dari satu-dua lauk yang dia kenal, baru pelan-pelan tambah yang baru.
6. Ekspektasi kita yang terlalu tinggi
Nah, ini yang paling berat tapi paling perlu diakui. Nggak semua anak makan banyak tiap hari. Ada masanya dia lahap, ada masanya dia cuma makan beberapa suap. Selama pertumbuhannya baik dan dia aktif, biasanya masih aman. Yang perlu dicek itu tren berat badannya dalam beberapa bulan, bukan satu hari.
Kenapa Hubungan Keluarga Ikut Kena Imbasnya
Masalah makan anak itu jarang berdiri sendiri. Dia nyeret suasana rumah. Ibu jadi gampang marah, ayah jadi ikut kesal, kakak-adik jadi ikut kena omel. Belum lagi kalau ada omongan dari luar, "Kok anaknya kurus?" Itu rasanya kayak ditusuk.
Gue pernah dengar cerita dari teman, dia sampai nangis di kamar mandi gara-gara anaknya nggak mau makan dan mertuanya bilang dia kurang telaten. Padahal dia udah mati-matian. Ini yang bikin gue sedih. Beban ngasuh anak itu sering ditanggung sendirian, padahal seharusnya bareng-bareng.
Makanya, ceklis di atas bukan cuma buat anak. Ini juga buat kita para ibunya. Kalau kita bisa lihat masalahnya lebih jernih, kita nggak gampang nyalahin diri sendiri. Dan kalau kita nggak gampang nyalahin diri, suasana rumah ikut lebih adem.
Yang Bisa Kamu Coba Mulai Besok
Nggak usah ubah semuanya sekaligus. Pilih satu hal dari ceklis di atas, coba selama seminggu. Misalnya, rapikan jam camilan dulu. Atau coba makan bareng tanpa HP dan tanpa target. Kecil-kecil aja.
Kalau kamu punya pasangan, ajak ngobrol. Bagi tugas. Kadang ibu butuh sekadar didengar, bukan dikasih solusi. Dan kalau ada yang bilang anakmu kurang gizi atau kamu kurang telaten, kamu boleh kok nggak ngehiraukan. Kamu yang paling tahu anakmu.
Gue percaya, ngasuh anak itu bukan soal jadi sempurna. Ini soal hadir, sabar, dan mau belajar terus. Anak yang merasa aman di rumah biasanya juga lebih gampang diajak kerja sama, termasuk soal makan. Jadi mulai dari rumah yang tenang dulu, ya. Urusan suapan bisa nyusul.