Minggu, 1 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
tribute-to.nettribute-to.net
tribute-to.net - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Hilang Capek Pulang Kerja, Ternyata Bukan Karena G...

Hilang Capek Pulang Kerja, Ternyata Bukan Karena Gaji — Tapi Ini

Banyak pekerja kantoran merasa lelah pulang kerja bukan karena beban kerja, melainkan karena cara mengasuh anak di rumah yang bikin energi terkuras.

Hilang Capek Pulang Kerja, Ternyata Bukan Karena Gaji — Tapi Ini

Pulang kerja jam enam sore, badan pegal, kepala penuh sama deadline. Kamu buka pintu, dan langsung disambut anak yang lari ke arah kamu sambil teriak-teriak. Ada dua reaksi yang biasa muncul: senyum lebar karena kangen, atau napas panjang karena tahu sebentar lagi bakal ada drama PR, mandi, dan tidur yang molor.

Gue dulu selalu mikir yang kedua. Capek kerja itu nomor satu penyebabnya. Tapi setelah beberapa tahun jalanin rutinitas ini, gue sadar ada yang salah sama asumsi gue sendiri. Capek yang gue rasain pas sampai rumah ternyata bukan cuma soal kerjaan di kantor. Ada faktor lain yang sering kita abaikan: cara kita memiliki peran sebagai orang tua di rumah.

Dua Cara Jadi Ortu buat Anak, Mana yang Lebih Bikin Capek?

Di dunia pengasuhan, ada dua pendekatan besar yang sering dipertentangkan. Yang pertama, ortu yang serba mengatur — jadwal ketat, aturan jelas, semua harus sesuai rencana. Yang kedua, ortu yang serba membebaskan — anak dibiarkan eksplor sendiri, ortu lebih banyak mengamati daripada mengarahkan.

Dua-duanya punya penggemar. Dua-duanya juga punya sisi bikin capek. Dan buat kamu yang kerja kantoran, pertanyaannya bukan mana yang lebih benar secara teori, tapi mana yang bikin kamu nggak tumbang sebelum jam sembilan malam.

Baca juga: Permohonan Denada Usai Kasus Anak

Ortu "Serba Mengatur": Rapi di Kertas, Berantakan di Kenyataan

Gue pernah ada di fase ini. Semua dijadwalin. Anak mandi jam setengah tujuh, belajar jam tujuh, tidur jam delapan lewat lima belas. Kelihatan rapi banget di grup WhatsApp keluarga. Tapi kenyataannya? Anak ngambek karena dipaksa mandi padahal masih main, gue ngomel, istri ikut tegang, dan jam sembilan kita semua masih di ruang tamu dengan muka masam.

Masalahnya, ortu yang serba mengatur itu menaruh energi besar di kontrol. Setiap penyimpangan dari rencana dianggap masalah yang harus dibereskan. Padahal anak itu makhluk hidup, bukan proyek kantor yang bisa di-track progress-nya di spreadsheet. Hasilnya, kamu pulang kerja bukan buat istirahat, tapi buat jadi manajer kedua di rumah.

Yang bikin capek bukan anaknya. Yang bikin capek adalah ekspektasi kita kalau semuanya harus jalan sesuai rencana.

Ortu "Serba Membebaskan": Tenang di Awal, Panik di Belakang

Di sisi lain, ada pendekatan yang lebih santai. Anak dibiarkan main sampai capek sendiri, makan kapan aja dia mau, tidur kalau udah ngantuk. Kelihatannya adem. Dan memang, di awal, rumah jadi lebih tenang karena nggak ada yang ngomel.

Tapi gue pernah coba ini juga, dan hasilnya nggak seindah yang dibayangkan. Anak jadi nggak punya batas. Dia main HP sampai jam sebelas malam, besoknya rewel karena kurang tidur, dan gue yang harus menghadapi drama pagi hari sambil buru-buru berangkat kerja. Capeknya bukan hilang, cuma dipindah ke jam yang lebih nggak nyaman.

Jadi dua-duanya capek. Bedanya, yang satu capek di depan, yang satu capek di belakang. Dan buat pekerja kantoran yang energinya udah kepotong setengah di jalan, dua-duanya sama-sama nggak ideal.

Yang Gue Temuin Setelah Coba Dua-duanya

Gue bukan psikolog anak, jadi ini murni pengalaman pribadi. Tapi setelah bolak-balik coba dua pendekatan itu, ada satu pola yang akhirnya gue sadari: capeknya bukan datang dari pilihan pendekatannya, tapi dari seberapa kaku kita memegang pendekatan itu.

Ortu yang serba mengatur capek karena nggak bisa nerima penyimpangan. Ortu yang serba membebaskan capek karena harus beresin kekacauan yang menumpuk. Dua-duanya sama-sama kaku, cuma beda arah.

Yang akhirnya bikin rumah gue lebih adem adalah kombinasi yang nggak selalu rapi di teori: batas yang jelas, tapi fleksibel di eksekusi. Anak tetap punya jam tidur, tapi kalau lagi main sama sepupunya dan keliatan bahagia banget, gue kasih toleransi setengah jam. Anak tetap harus makan sayur, tapi kalau hari itu dia lagi susah makan, gue nggak jadiin itu pertempuran besar.

Perubahan kecil ini kelihatan sepele, tapi efeknya ke energi gue setelah pulang kerja lumayan banget. Gue nggak lagi pulang dengan mental siap perang. Gue pulang dengan mental siap menyesuaikan.

Kenapa Ini Penting Banget buat Kamu yang Kerja Kantoran

Kalau kamu kerja di kantor, energi kamu itu terbatas. Ada kuota harian yang udah kepakai buat meeting, revisi laporan, dan ngadepin atasan. Sisa kuotanya kecil, dan itu yang kamu bawa pulang ke rumah.

Kalau sisa energi ini dipakai buat mempertahankan kontrol yang kaku, rumah berubah jadi medan tempur kedua. Kamu nggak pernah benar-benar pulang. Kamu cuma pindah lokasi kerja.

Tapi kalau sisa energi ini dipakai buat hadir dengan lebih longgar — dengerin anak cerita, main sebentar tanpa mikirin jadwal, nggak panik kalau rutinitas meleset sedikit — capeknya berubah bentuk. Bukan hilang, tapi jadi capek yang lebih bisa diterima. Capek yang nggak bikin kamu kesal sama keluarga sendiri.

Gue nggak bilang ini gampang. Kadang gue masih kaget sendiri kalau anak gue tiba-tiba nggak mau tidur padahal udah jamnya. Tapi sekarang gue punya pilihan: marah dan nambah capek, atau tarik napas dan sesuaikan. Dan pilihan kedua itu, walau nggak selalu berhasil, bikin rumah gue jauh lebih tenang.

Jadi kalau kamu sering merasa pulang kerja itu kayak masuk shift kedua, coba cek dulu: capeknya karena kerjaan, atau karena cara kamu memegang peran sebagai ortu di rumah? Jawabannya mungkin bikin kamu sedikit kaget. Tapi setidaknya, kamu jadi tahu ke mana harus mulai berbenah.

Anak nggak butuh ortu yang sempurna. Mereka butuh ortu yang masih punya sisa tenaga buat ketawa bareng mereka di malam hari. Dan itu cuma bisa terjadi kalau kita berhenti ngotot jadi manajer di rumah sendiri.

Tags: parenting pekerja kantoran keluarga work life balance pengasuhan anak